Search This Blog

Showing posts with label Nabi Musa. Show all posts
Showing posts with label Nabi Musa. Show all posts

July 4, 2008

Bantahan Adam kepada Musa

Diambil dari : http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1206&Itemid=35

DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar

 

Pengantar

Kisah ini hanya bisa diketahui melalui wahyu, karena ia berbicara tentang pertemuan yang tidak disaksikan oleh manusia. Pertemuan Adam dengan Musa. Pertemuan ini terwujud atas dasar permintaan dari Musa. Kita tidak tahu bagaimana hal ini terwujud, akan tetapi kita yakin bahwa ia terjadi karena berita Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pastilah benar.

Pertemuan seperti ini terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam manakala beliau bertemu dengan para nabi dan rasul di malam isra' dan beliau shalat berjamaah dengan mereka sebagai imam di masjid Al-Aqsa. Pada saat mi'raj ke langit beliau berbincang dengan sebagian dari mereka.

Tujuan Musa dengan pertemuan itu adalah untuk berbincang-bincang langsung dengan Adam dan menyalahkannya karena Adam telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari surga lantaran dosa yang dilakukannya. Akan tetapi pada saaat itu Adam mengemukakan alasan yang membuat Musa terdiam. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengakui bahwa Adam telah mengalahkan argumen Musa Alahis Salam. 

Teks Hadis

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Adam dan Musa berdebat di sisi Tuhan keduanya. Maka Adam mengalahkan argumen Musa. Musa berkata, 'Kamu adalah Adam yang diciptakan oleh Allah dengan Tangan-Nya. Dia meniupkan ruh-Nya kepadamu. Dia memerintahkan malaikat sujud kepadamu, dan Dia mengizinkanmu tinggal di surga-Nya. Kemudian gara-gara kesalahanmu, kamu menjadikan manusia diturunkan ke bumi.'

Adam menjawab, 'Kamu adalah Musa yang dipilih oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya. Dia memberimu lauh(kepingan kayu atau batu; pent) yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu. Dia telah mendekatkanmu kepada-Nya sewaktu kamu bermunajat kepada-Nya. Berapa lama kamu mendapatkan Allah telah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?' Musa menjawab, '40 tahun.'

Adam bertanya, 'Apakah di sana tertulis, 'Dan durhakalah Adam kepada Allah dan sesatlah dia.(Thaha: 121)?' Musa menjawab, 'Ya.' Adam berkata, 'Apakah kamu menyalahkanku hanya karena aku melakukan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah atasku 40 tahun sebelum Dia menciptakanku?'" Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Adam mengungguli argumen Musa."

Riwayat di atas adalah riwayat Muslim.

Dalam riwayat Bukhari, "Adam dan Musa saling beradu argumen. Musa berkata kepada Adam, 'Kamu Adam yang dikeluarkan dari surga karena kesalahanmu.' Adam menjawab, 'Kamu Musa yang telah dipilih oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya, kemudian kamu menyalahkanku hanya karena aku melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan."' Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Maka Adam mengalahkan dalil Musa." Ini diucapkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sebanyak dua kali.

Dalam riwayat Bukhari juga, "Adam dan Musa saling berdebat. Musa berkata, 'Ya Adam, kamu sebagai bapak kami telah mengecewakan kami. Kamu membuat kami dikeluarkan dari surga.' Adam menjawab, 'Ya Musa, Allah telah mengangkatmu dengan Kalam-Nya dan Dia menuliskan untukmu dengan Tangan-Nya, apakah kamu menyalahkanku hanya karena perkara yang aku lakukan yang telah ditakdirkan oleh Allah atasku empat puluh tahun sebelum Dia menciptanku?' Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Maka Adam mengungguli Musa." Tiga kali. 

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah dalam Kitab Ahadisil Anbiya', bab Wafat Musa, 6/440, no. 3407; dalam Kitab Tafsir, bab 'Dan Aku memilihmu untuk diri-Ku' (Thaha:41), 8/434, no. 4736; dalam Kitabul Qadar, bab dialog Adam dengan Musa, 11/505, no. 6614; di Kitabut Tauhid, bab keterangan tentang firman Allah, "Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An-Nisaa: 164).

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Qadar bab debat antara Adam dan Musa, 4/2042, no. 2652.

Kisah Musa dan Malaikat Maut

Diambil dari : http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1219&Itemid=35

DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar

 

Pengantar

Musa adalah orang yang punya kedudukan (terkemuka) dan pemimpin yang mudah berinspirasi, sehingga mampu mengendalikan umat yang keras tabiatnya, yang banyak ragu-ragu dalam menghadapi berbagai perkara seperti kepemimpinan, kebijaksanaan dan bimbingan. Musa memiliki kekhususan tersendiri serta mempunyai kemampuan yang tinggi, sehingga barang siapa yang memiliki sifat semisalnya, maka tingkah lakunya dimuliakan oleh yang lainnya, dikarenakan kepribadian sesuai dengan tingkah lakunya. 

Oleh karena itu, ketika malaikat maut datang kepada Musa, kemudian meminta izin untuk mencabut nyawanya, maka Musa menampar malaikat tersebut hingga rusak matanya (mata manusia). Malaikat maut mendatangi Musa dalam wujud seorang laki-laki, kemudian Musa diberi pilihan antara berpindah ke sisi Tuhannya atau tetap hidup di dunia dalam masa yang lama, sebelum datang kepadanya kematian. Akan tetapi Musa memilih berpindah ke sisi Tuhannya, atas sulitnya kehidupan dunia dan ujiannya. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memenuhi permohonannya. Kemudian mendekatkannya ke tanah suci sejauh lemparan batu. Sehingga kuburannya tertelah di sebelah timur tanah suci.

Teks Hadis

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, "Malaikat maut diutus kepada Musa. Ketika dia datang, Musa menamparnya. Lalu malaikat maut kembali kepada Tuhannya dan berkata, 'Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang menolak mati.' Lalu Allah mengembalikan matanya (yang rusak karena tamparan Musa). Allah berfirman kepadanya, 'Kembalilah kepada Musa. Katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di punggung sapi jantan, maka bulu sapi yang tertutup oleh tangannya itulah sisa umurnya. Satu bulu satu tahun.' Musa berkata, 'Ya, Rabbi setelah itu apa?' Malaikat menjawab, 'Maut.' Musa berkata, 'Sekarang aku pasrah.' Maka Musa memohon kepada Allah agar didekatkan kepada tanah suci sejauh lemparan batu.” Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda, "Seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburannya kepada kalian yang berada di sisi jalan di dataran berpasir merah yang bergelombang."

Dalam riwayat Muslim, "Malaikat maut mendatangi Musa dan berkata, 'Jawablah panggilan Tuhanmu.' Rasulullah bersabda, 'Musa menempeleng mata malaikat maut hingga membuatnya rusak. Lalu malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata, 'Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba-Mu yang tidak mau mati. Dia telah merusak mataku’.' Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, 'Maka Allah mengembalikan matanya dan berfirman kepadanya, 'Kembalilah kamu kepada hamba-Ku, katakan kepadanya, apakah kamu ingin hidup? Jika kamu ingin hidup, maka letakkanlah tanganmu di punggung sapi jantan, rambut yang tertutup oleh tanganmu itulah umurmu yang tersisa. Satu rambut, satu tahun.' Musa bertanya, 'Seterusnya apa?' Malaikat menjawab, 'Kemudian kamu mati.' Musa berkata, 'Sekarang, ya Rabbi dari dekat.' Musa berkata, 'Matikanlah aku di dekat tanah suci sejauh lemparan batu’.' Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Demi Allah seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian di samping jalan di pasir merah.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Jami'ul Ushul, bab orang yang ingin dikubur di tanah suci, 3/206, no. 1339; dalam Kitab Ahadisil Anbiya', bab wafat Musa, 6/440, no. 3407. Bukhari tidak secara nyata menyatakan penisbatan Abu Hurairah terhadap hadis kepada Rasulullah. Dan Bukhari secara nyata menyebutkannya di riwayatnya dalam Kitab Ahadisil Anbiya'. Bukhari berkata, 'Ma'mar memberitakan kepada kami dari Hammam, Abu Hurairah menyampaikan kepada kami dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Fadhail bab keutamaan Musa, 4/1842.

Penjelasan Hadis

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberitakan kepada kita bahwa di antara kemuliaan para Nabi di sisi Allah adalah bahwa mereka diberi pilihan menjelang kematian, antara hidup di dunia atau berpindah ke Rafiqil A'la. Dalam beberapa hadis shahih dari Aisyah bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam diberi pilihan, dan beliau memilih Rafiqil A'la.

Allah mengutus malaikat maut yang menjelma dalam wujud seorang laki-laki kepada Musa. Malaikat meminta agar Musa menjawab panggilan Tuhannya. Ini berarti bahwa ajalnya telah tiba dan saatnya telah dekat. Musa memiliki temperamental yang cukup tinggi, karenanya dia menempeleng wajah malaikat maut dan merusak matanya(mata manusia). Karena seandainya dia dalam wujud aslinya, yakni malaikat, niscaya Musa tidak akan mampu menempelengnya. Tidak akan bisa!

Malaikat maut kembali kepada Allah untuk mengadukan apa yang diperolehnya dari Musa. Lalu Allah menyembuhkan matanya dan menyuruhnya kembali kepada Musa, agar meletakkan tangannya di atas punggung sapi, kemudian rambut-rambut yang tertutup oleh tangannya itu dihitung dan satu helai rambut satu tahun. Maka ajal Musa sama dengan jumlah rambut itu. Dengan itu Musa mendapatkan kehidupan yang panjang. Jika Musa melakukan hal itu, niscaya dengan tidak menutup kemungkinan dia tetap hidup sampai hari ini.

Akan tetapi, manakala Musa bertanya kepada malaikat maut tentang apa yang ada di balik kehidupan panjang tersebut, dia dijawab, 'Maut." Maka Musa memilih yang dekat. Apa yang ada di sisi Allah bagi para rasul dan nabi-Nya, serta hamba-hamba-Nya yang shalih, adalah lebih baik dan lebih kekal.

Jika roh para syuhada berada di perut burung hijau yang berterbangan di kebun-kebun surga, memakan buah-buahnya, minum dari sungainya dan berlindung di lampu-lampu yang bergantung di atap 'Arasy Allah, maka kehidupan para nabi dan rasul adalah di atas semua itu. Apa yang didapat oleh Musa seandainya dia hidup sampai hari ini, dia pasti memikul kesulian-kesulitan dunia dan ujian-ujiannya. Dia akan menyaksikan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi sepanjang sejarah yang membuat pikiran sibuk dan hati bersedih. Bukankah lebihbaik dia berada di Rafiqil A'la dengan para rasul dan para nabi menikmati kenikmatan surga, daripada hidup di rumah kesengsaraan dan ujian.

Musa diminta untuk memilih dan dia telah memilih kembali kepada Allah daripada kehidupan yang lama dan panjang. Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal dan akhirat lebih baik daripada dunia.

Musa memohon kepada Allah pada waktu ruhnya dicabut agar didekatkan kepada tanah yang suci sejuah lemparan batu.

Permintaan Musa ini adalah wujud kecintaannya kepada tanah suci yang bercokol di dalam jiwanya, sehingga dia meminta dikubur di perbatasannya, dekat dengannya. Tetapi Musa tidak meminta kepada Allah agar mematikannya di tanah suci, karena dia mengetahui bahwa Allah mengharamkannya atas generasi di mana Musa berasal. Ini sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka kepada perintah Tuhan mereka agar masuk ke tanah suci seperti yang telah Allah tulis untuk mereka. Mereka berkata, "Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (Al-Maidah: 24). Lalu Allah menulis atas mereka kesesatan selama empat puluh tahun di gurun Sinai.

Allah menjawab doa Musa. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyampaikan kepada kita bahwa kuburan Musa terletak di pinggiran tanah suci di dataran pasir merah. Seandainya beliau di sana, niscaya beliau menunjukkan tempat itu kepada sahabat-sahabatnya.

March 16, 2008

Nabi juga Manusia

Dalam surat 70. Al Ma´aarij ayat 19-21 disebutkan bahwa sifat manusia itu :

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.  Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,"

Seorang Nabi, Musa as benar-benar menampakkan sifatnya sebagai manusia. Tatkala Tuhan berbicara langsung kepada nya, Nabi Musa masih saja meminta hal yang lain, agar Allah menampakkan diri kepada Nabi Musa secara langsung.  Mungkin manusia memang tidak pernah puas terhadap apapun sampai tanah menutupi seluruh tubuhnya.

Al A'raaf 143, "Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman."

Dan salah seorang Nabi yang pernah membunuh manusia lain, adalah Nabi Musa as. 

Al Qashash 15, "Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). "

Ketika Nabi Musa hendak menuju Mesir beliau merasakan takut bahwa orang mesir akan membalaskan dendam saudaranya, karena Nabi Musa berkata, "Dan aku berdosa terhadap mereka , maka aku takut mereka akan membunuhku."  (QS Asy Syu'araa' : 14).  Nabi juga memiliki perasaan takut.

Al Kahfi 66 - 82  "Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"  Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun." Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu."  Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku."  Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku."  Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar." Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku." Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu." Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."

Sebagai seorang Nabi, Musa selalu bertanya mengapa begini? mengapa begitu?  Selalu penasaran dengan apa saja yang terjadi di sekelilingnya dan menginginkan jawaban saat itu juga.  Kurang sabar dalam menghadapi tingkah laku Nabi Khidhr.  Sungguh sebuah sifat yang manusiawi karena kita juga selalu dikelilingi dengan sifat seperti ini.

gunung uhudPada masa perang Uhud, dimana Hamzah dari Bani Hasyim gugur, dan mayatnya dijadikan sebagai sarana balas dendam oleh Hindun.  Mayat Hamzah di mutilasi, bahkan hatinya sampai digigit, dikunyah, ditelannya sepotong dan sisanya diludahi untuk memenuhi sumpahnya terhadao suaminya yang telah dibunuh oleh Hamzah.  Ketika perang usai, dan Nabi melihat mayat Hamzah yang sangat mengenaskan ini, Rasulullah berkata, "Selama hidupku, aku tak pernah marah separah yang aku rasakan kali ini.  Jika kelak Allah memberikan kemenangan kepada kita, akan kurusak muka 30 mayat kaum Quraisy!". 

Emosi juga menguasai Rasulullah ketika orang terdekatnya meninggal dengan cara mengenaskan.  Sangat manusiawi, namun ketika itu juga, turun wahyu "Jika kalian ingin melakukan pembalasan, balaslah sesuai dengan yang mereka telah lakukan kepadamu, namun sesungguhnya memberikan maaf itu jauh lebih baik bagi orang-orang yang sabar." (QS 23 : 126).  Maka Rasulullah tidak hanya membatalkan sumpah, tetapi juga melarang keras setiap tindakan merusak muka mayat pada setiap kali peperangan berakhir.  Beliau bersabda, "Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila salah seorang di antara kamu memukul, hendaknya ia menghindari (memukul) wajah." Muttafaq Alaihi. ... karena tuhan menciptakan Adam dalam citra-Nya.