Search This Blog

Showing posts with label toleransi. Show all posts
Showing posts with label toleransi. Show all posts

December 22, 2007

"Selamat Natal...." boleh nggak sih?


QS 19: Maryam
23. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan."
24. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.
25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,
26. maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini."
27. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar
28. Hai saudara perempuan Harun[902], ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina",
29. maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"
30. Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
31. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
32. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."


Terlarangkah mengucapkan "Selamat Natal? Bukankah Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam
untuk mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. Juga merayakan hari keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir'aun dengan berpuasa 'Asyura, seraya bersabda, "Kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s."

Bukankah, "Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?" seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih kurang pandangan satu pendapat.
Adakah kacamata lain? Mungkin!

Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya memelihara akidah. Karena kekhawatiran kerancuan pemahaman, agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan "Selamat Natal" Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain, maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah yang berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan dan menghayati satu ayat Al-Quran?

Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau
keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun non-Muslim memahami ucapan "Selamat Natal" sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka interaksi sosial.
Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang
membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.

Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian umat Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu, kita
dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan. Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari kebangkitannya nanti.

Sumber : Quraish Shihab, Membumikan Al Quran.


Inti dari ucapan selamat natal menurut Quraish Shihab adalah QS 19 : 33. Sayangnya fakta baru muncul, menurut Paus Yohannes Paulus II : ternyata Natal yang diperingati setiap tanggal 25 Des bukanlah hari kelahiran Yesus. (Da Vinci Code, Dan Brown ; The Holly Grail).

Tetapi sebagai umat beragama, kembali ke akidah masing-masing. Jika khawatir/ragu-ragu, maka jangan lakukan.

December 12, 2007

UMAR Bin Khatab,tidak shalat di gereja di Yerusalem


Yerusalem dipaksa membuka gerbangnya bagi Khalifah Umar pada tahun 638. Ketika Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi, Palestina menjadi Kristen juga dan Yerusalem menjadi kota suci Kristen. Kuil-kuil pagan yang didirikan oleh kaum Romawi setelah tahun 70M diruntuhkan dan para peziarah Kristen berdatangan mengunjungi situs kematian dan kebangkitan Yesus.

Pada tahun 638, pemerintahan mandat Kota Suci adalah Uskup Yunani bernama Sopronius dan ia harus menyandang tugas yang menyedihkan : mendampingi Khalifah Umar, yang mengendarai unta putih dengan penuh kemenangan ke dalam kota Yerusalem. Umar minta segera diantarkan ke Bukit Kuil dan disana ia berlutu dan berdoa di tempat Nabi Muhammad saw, naik ke langit setelah melakukan Isra. Sang Uskup memandang Umar dengan penuh ketakutan : ini! Pikirnya, pastilah monster kehancuran yang telah diramalkan oleh Nabi Daniel akan memasuki kuil itu. Ini, pastilah sang Anti-Kristus, yang akan menandai Hari Terakhir.

Selanjutnya Umar meminta untuk diantar melihat tempat-tempat ibadah Kristen, dan sementara ia berada di Gereja Makam Suci, datanglah waktu shalat. Dengan santun sang Uskup mengundang Umar untuk shalat di gereja tempat mereka berada. Tapi Umar menolak dengan sopan. Jika Umar shalat di situ, jelas Umar, maka kaum muslim akan hendak mengenang peristiwa ini dengan membangun sebuah mesjid disana, dan itu akan berarti pemusnahan Gereja Makam Suci. Ini tidak boleh terjadi, karena tempat ibadah orang Kristen haruslah dilestarikan.

Maka, Umar malah shalat agak jauh dari Gereja dan tepat seperti perkiraan Umar, beseberangan dengan Gereja Makam Suci saat ini masih berdiri sebuah mesjid kecil yang didedikasikan untuk Khalifah Umar.

Karen Armstrong, PERANG SUCI dari Perang Salib hingga Perang Teluk. Bab 1. Pada Mulanya, hal 93.